Minggu, 13 Maret 2016

Pekerjaan Terbaik


Salah satu kebutuhan manusia yang sering dilupakan adalah kebutuhan untuk bekerja. Manusia memiliki tenaga yang harus dicurahkan sebagai usaha untuk memberi arti dan menampakkan eksistensi, karena fitrah manusia adalah ingin diakui. Maka tak jarang ditemukan orang-orang yang bingung, gelisah, uring-uringan, dan bahkan panik bila tak ada pekerjaannya.

Disamping itu, sesungguhnya bekerja dan pekerjaan adalah dua nikmat dari Allah yang patut disyukuri. Karena tanpa kita sadari, ada banyak orang yang menangis walaupun ia mampu bekerja, namun ia tak "memiliki" pekerjaan. Ada banyak orang yang menangis karena ia memiliki pekerjaan yang ingin ia kerjakan, namun tubuhnya tak berdaya dan tak bisa melakukan apa-apa. Dan ada banyak orang yang menangis karena ia tak memiliki keduanya, dan ia akan semakin tertekan ketika merasa dirinya justru menjadi beban bagi keluarga dan orang-orang sekitarnya.

Maka tentu saja kebutuhan manusia untuk bekerja termasuk pada kebutuhan utama agar ia bisa menjalani hidup "normal" sebagai makhluk yang harus mengelola bumi dan segala isinya. Bekerja adalah hak setiap manusia untuk mengekpresikan diri, sekaligus kewajiban untuk mempertanggungjawabkan nikmat (kesehatan) dari Illahy.

Walaupun manusia butuh dan harus bekerja, namun bukan berarti kita bisa asal bekerja. Karena sungguh, pertimbangan bekerja bukan hanya sekedar baik-buruknya, tapi juga (sebaiknya) mempertimbangkan tepat atau tidaknya. Karena pekerjaan yang baik belum tentu tepat bagi seseorang, namun pekerjaan yang tepat insya Allah akan banyak mengalirkan berkah dan membuahkan banyak kebaikan.

Contohnya seorang sarjana kehutanan yang berprofesi sebagai seorang guru komputer. Kita semua mengetahui bahwa profesi guru adalah pekerjaan yang baik bahkan mulia, karena mereka-lah orang-orang yang telah menanamkan ilmu dan mengajarkan pengetahuan yang berguna. Namun bila kita kaitkan dengan latar belakang pendidikan, maka menjadi guru bukanlah pekerjaan yang tepat bagi seorang sarjana kehutanan. Ya, barangkali memang ada diantara ilmu yang dimilikinya bisa ia ajarkan. Namun sudah tentu sebagian besar ilmu yang dikuasainya menjadi "tidak berguna", karena itu bukan dunia-nya.

Maka haruslah diingat bahwa; bekerja sesuai ilmu yang dimiliki dan kemampuan yang dikuasai adalah sebaik-baiknya pekerjaan bagi seseorang. Bahkan itulah pekerjaan yang paling utama! Karena disana ada ilmu yang diamalkan dan ada kemampuan yang disalurkan. Itulah yang akhirnya dapat menimbulkan kesenangan, dan akhirnya kesenangan dalam bekerja itulah yang akan membawa banyak kebaikan serta menghasilkan pencapaian yang optimal. Dan itu pula-lah yang dapat melahirkan kepuasan batin, hingga akhirnya hati yang puas dan bersyukur atas pekerjaan yang dimiliki itulah yang banyak mendatangkan berkah dan menciptakan kehidupan yang sakinah. (ZR)

***

Sabtu, 04 Oktober 2014

Sejatinya Lelaki Sejati


"Laki-laki itu… istimewa! Pun dari segi agama ia dilebihkan dari wanita. Bukan karena derajat yang lebih mulia, karena pada dasarnya semua manusia sama, semata karena kewajiban dan tanggung jawabnya yang utama."


Laki-laki itu.. Ia yang dilebihkan dari segi tanggungjawab dan kewajiban. Ia adalah (calon) imam bagi suatu jamaah bernama keluarga, ia adalah sang pemilik visi yang menentukan apa dan bagaimana menggapai cita-cita, dan ia adalah nahkoda yang mengomandoi perjananan mengarungi samudera dunia.

Laki-laki itu… ia yang berdiri untuk menghidupi. Bagi laki-laki, bekerja bukan semata demi materi. Tapi hal itu merupakan suatu pembuktian harga diri dan perwujudan eksistensi bahwa keberadaannya memiliki arti. Tak heran bila seorang laki-laki (sejati) akan merasakan tekanan yang hebat bila ia tak bekerja. Ia akan sangat menderita bila ia tak berkeringat dan tak merasa penat. Ia akan merasa hina bila waktunya tak berguna. Mereka tidak menemukan kenikmatan selain daripada bekerja, sungguhpun keletihan mendera ia bisa tersenyum puas bangga.

Laki-laki itu… ia yang dikenal dengan ketegasan dan komitmennya. Ia biasa hidup dengan rencana-rencana cerdas dan cita-cita yang jelas. Dan ia akan menghukum dirinya bila ia malas, bahkan dengan hukuman yang sangat keras. Karena kemalasan adalah penghinaan terhadap harga dirinya dan pelecehan terhadap kewibawaannya.

Laki-laki itu… ia yang tidak akan bisa tidur jika masih ada pekerjaan yang masih belum terselesaikan. Ia tidak akan tenang bila masih ada kewajibannya yang belum dilaksanakan. Ia akan gelisah bila ada tanggungjawab yang belum ditunaikan! Bahkan saat beristirahat pun, ia sadar bahwa tak boleh terlalu lama bersantai apalagi sampai larut dan bermain-main. Karena ia harus terus bekerja dalam meramu waktu menjadi karya-karya berguna dan berharga.

Laki-laki itu… Ia bukan tanggungan, tapi ialah sang penanggung. Ia bukan beban, tapi ialah tulang punggung. Ia bukan untuk difikirkan, karena ialah yang seharusnya memikirkan orang-orang yang dicintainya. Ia akan sangat menyesal bila ada orang yang rugi dan menderita karenanya; apakah itu orang-orang yang mencintainya atau keluarganya sendiri. Ia tak akan pernah menyiakan harapan orang-orang mengandalkannya, karena akan sangat sulit baginya memaafkan dirinya sendiri bila ada yang kecewa karena kecerobohan dan kegagalannya. Dan ia akan berusaha sekuat daya dan upaya yang dimiliki untuk membayarkan pengorbanan orang-orang yang berkorban untuknya.

Dan Laki-laki itu… ia yang memilih untuk terjaga agar yang dicintainya dapat tidur tenang, ia yang terus bekerja agar yang dicintainya dapat hidup senang, ia yang menahan lapar agar yang dicintainya dapat merasa kenyang. Dan ia benar-benar menyadari, bahwa pada akhirnya tidak ada yang benar-benar bisa diharapkan kecuali kedua tangannya sendiri... (/akhi)

Kisah di Balik Jendela Kereta


Ada orang tua yang duduk bersama anaknya yang berumur 25 tahun di dalam sebuah kereta. Tampak sekali keceriaan dan kegembiraan di wajah anaknya yang duduk di samping jendela kereta.

Pemuda itu mengeluarkan tangannya dari jendela dan merasakan terpaan angin seraya berkata riang, "Ayah… Ayah… lihatlah! Pepohonan itu berjalan berkebalikan dengan arah kereta!" Orangtua itu hanya tersenyum memandangani anaknya yang tampak gembira.

Namun di sampingnya, duduk sepasang suami istri yang ternyata mendengar perbincangan orang tua dan anak itu. Mereka tampak risih dan jengkel akan perilaku pemuda yang berumur 25 tahun itu, tapi bertingkah seperti anak kecil.

Kemudian, lagi-lagi pemudua itu berteriak kegirangan melihat pemandangan yang dilaluinya, "Ayah, lihatlah! awan di atas gunung itu juga berjalan mengikuti kereta kita!"

Semakin risih dan jengkellah pasangan suami istri yang duduk di sampingnya itu.

Sejurus kemudian hujan pun turun. Tetesan air hujan menerpa tangan pemuda yang sedang meluapkan kegembiraannya itu, "Ayah… ada hujan! Airnya mengenai tanganku, lihatlah wahai Ayah!"

Kali ini pasangan suami istri itu tak mampu lagi menahan kekesalannya. Lalu mereka berkata, "Kenapa tak kau bawa saja anakmu ke dokter, agar dia bisa sembuh dari penyakit gilanya!"

Orangtua itu tersenyum dan menjawab, "Ya, kami baru saja pulang dari rumah sakit. Dan ini adalah hari pertama anakku bisa melihat dalam hidupnya setelah tadinya ia buta semenjak lahir." 

(Mamlakatul Qashash al-Waqi'iyah)


***

Begitulah… terkadang kita melihat dan menilai orang lain dari apa yang tampak di depan mata. Kita tak pernah tahu atau mau mencari tahu kondisi sesungguhnya. Kita terbiasa, bahkan seringkali "pukul rata" terhadap segala kondisi. Padahal boleh jadi apa yang sebenarnya terjadi berkebalikan dengan sangkaan kita. Oleh karena itu, jangan mudah menghakimi orang lain secara serampangan, tanpa mengetahui alasan dan kondisi sesungguhnya.


Selasa, 19 Agustus 2014

Tentang Jodoh dan Acer Liquid Z3

Benar saja... Setiap apa yang diinginkan belum tentu akan bisa kita dapatkan. Bahkan boleh jadi apa yang didapatkan (di kemudian hari) jauh melampaui batas harapan kita sebelumnya. Seperti peribahasa "hendak hati (hanya) ingin memeluk gunung, malah ternyata sepenuh bumi terbendung" *emang ada pribahasa gitu? :/

Tapi memang seperti itu adanya, bahkan kenyataan itu tak jarang ditemui -termasuk saya yang mengalami sendiri-. Ya…  Niat hati ingin "meminang" sebuah android murah, namun yang didapati ternyata sebuah handphone dengan harga yang tidak lebih mahal namun lebih baik dari segi spesifikasi dan performa. Walau berbeda merek dari handphone yang sebelumnya saya inginkan, siapa peduli? Toh ketinggian nama juga bukan merupakan "nilai" yang mempengaruhi fungsi. Terlebih lagi handphone yang akhirnya saya beli juga tidaklah "kampungan" dari segi merek :D

Ehm, barangkali seperti itulah jodoh. Ada yang sudah sekian lama memendam rasa bahkan sampai ada yang mengungkapkan, namun di kemudian hari ternyata yang dicintai bukanlah ia yang dikehendaki-Nya. Seseorang yang saat ini kita kenal biasa, boleh jadi akan menjadi bagian terpenting dalam mempengaruhi alur kehidupan kita nanti. Sungguhpun ia merupakan sosok yang sama sekali tak pernah terfikirkan. Anehnya sama sekali juga tak ada rasa kecewa, karena pengganti yang didapati ternyata tidak lebih buruk dari apa yang sebelumnya diingini, bahkan lebih baik!

Ada benarnya juga anjuran untuk tidak berlebihan dalam menanggapi getaran rasa. Dengan selalu berusaha untuk bersikap biasa dan sewajarnya dalam menampik rasa, setidaknya dapat mencegah munculnya sesal bila menemui kenyataan yang "aneh" di hari nanti.

Cukup perihal jodoh dan kembali ke android baru saya :D… Walaupun sebenarnya saya masih merasa aneh. Tentu saja! Bahkan sama sekali tidak ada terlintas di benak sebelumnya, apalagi sampai ada niat untuk membelinya. Sedikit bercerita, awalnya saya sudah cukup lama berkeliling mencari handphone yang saya inginkan, namun barangnya sudah sangat langka, kalaupun ada akan dibandrol dengan harga yang tinggi. Bahkan karena keterbatasan budget, saya sudah hampir menjatuhkan pilihan pada android senama, namun dari segi kualitas lebih rendah. Tapi akhirnya Allah jua yang menggerakkan hati saya untuk melangkahkan kaki ke sebuah toko di lantai satu yang bahkan biasanya hanya menjual handphone bekas. Disana saya malah ditawarkan sebuah handphone -yang katanya barang baru- dengan processor dual core, kamera 5MP dan... tentu saja dengan harga yang meriah. Begitulah, pertemuan (singkat) di penghujung pencarian itulah yang akhirnya menjodohkan saya dengan Acer Liquid Z3 :D







Jumat, 21 Maret 2014

Menulis Itu...


Menulis itu bermanfaat, dan manfaat yang paling dirasa adalah sebagai cara terbaik untuk memotivasi diri. Ya, dengan menuliskan hal-hal baik dan bermanfaat setidaknya kita haruslah menjadi orang pertama yang mengetahuinya, mengamalkannya, dan merasakan manfaatnya.

Menulis itu menambah inspirasi dan meluaskan imajinasi. Menulis adalah olahraga fikiran, raga, dan hati. Dengan menulis kita akan terbiasa untuk aktif dan berfikir positif.

Menulis mengajarkan untuk jujur. Dengan menulis kita belajar menuangkan segala keadaan dan realita apa adanya. Tanpa mengurangi atau melebihkan, kita menyempurnakan dengan kesahajaan.

Menulis adalah cara untuk berbagi. Berbagi cerita, gagasan, pengalaman, dan opini. Bahkan sumber ilmu terbesar adalah melalui lembar-lembar tulisan yang memiliki nilai arti

Menulis dapat menguatkan ingatan. Dengan menulis, maka segala ide dan gagasan akan mudah tersimpan. Tak bisa hanya mengandalkan otak yang hebat, karena tetap memiliki keterbatasan untuk mengingat. Pilihannya hanya dengan mengikatnya dengan tulisan, agar tidak hilang ketika hendak dibutuhkan

Menulis adalah kebiasaan orang berilmu. ya, tidak ada tokoh terkenal yang tidak menulis. Sama sekali tidak ada ulama besar yang tidak menulis. Bahkan (karya) tulisan adalah pembuktian, bahkan apa (pemikiran) yang dipunyai layak untuk disebut ilmu dan dihargai.

Menulis itu memanjangkan usia. Buktinya? Lihatlah betapa banyak yang goresan penanya jauh lebih panjang dari usianya. Lihatnya mereka yang karya-karya jauh lebih terjaga dari jasadnya. Mereka terus hidup dengan pemikiran dan karyanya. Mereka terus ada dalam membersamai setiap perjalanan roda zaman.

Menulis adalah kebaikan. Terlebih jika yang dituliskan adalah hal-hal yang baik. Ketika ada yang mendapatkan pengetahuan dari apa yang dituliskan, maka jadilah ia sebentuk amal. Bahkan menulis adalah ladang amal terbaik, mudah dan sederhana. Tanpa perlu bersusah berjalan untuk menyuarakannya.
 
Menulis adalah media belajar. Tidak hanya dengan mendengar dan membaca, tapi akan semakin sempurna dengan juga menuliskannya. Dengan menulis kita belajar untuk mengokohkan apa yang dituliskan dengan data, fakta, serta argumen yang kuat. Termasuk juga bahwa menulis adalah mempelajari seluk beluk diri.

Menulis itu membentuk kepribadian dan jati diri. Dengan menulis kita belajar sabar. Dengan menulis kita belajar memahami diri. Dengan menulis kita belajar menghargai. Dengan menulis kita belajar kritis dalam menganalisis dengan logis, tapi tetap etis. Itulah manfaat menulis!

Dan,

Menulis itu sederhana saja. Tak perlu membebani diri dengan karya sarat bahasa tinggi tapi sukar dipahami. Tumpahkan saja segala yang ada difikiran. Tuangkan secara bebas! Bahkan alasan kenapa (masih) sulit untuk menulis tentunya bisa dicipta menjadi sebuah tulisan. Menyenangkan!

Selasa, 05 November 2013

"Cerita Dewasa"


Aku tengah berada di episode ketiga dari kehidupanku. Itulah ketika aku sudah tidak layak lagi bermain-main dan bergurau dengan kehidupan. Cepatnya perjalanan waktu telah menyeretku ke gerbong kedewasaan. Walau aku keberatan, tapi tetap saja aku tak bisa menolak kenyataan.

Aku sudah dewasa. Sejujurnya aku belum begitu paham dengan tanggung jawabku sekarang. Namun satu hal yang kutahu, bahwa "harga diri lelaki itu ada pada bekerja". Aku bisa saja bermalasan dan menghabiskan waktuku untuk bersenang-senang. Tapi jika demikian sama saja dengan aku menjatuhkan wibawaku dan mencampakkan maluku. Dan aku tidak akan tenang.

Yakinku, akan sangat sulit menjalani hidup sebagai laki-laki dewasa; sedikit tidur, sedikit bermain, sedikit bercanda. Sebaliknya aku justru dituntut untuk lebih banyak beramal, banyak memberi, dan banyak bekerja. Setiap detik yang kuhabiskan harus bisa kuimbangi dengan sebentuk kebaikan yang kuperlihatkan dan sebentuk kemanfaatan yang kuberikan. Semua tuntutan itu semoga tidak menjadi beban bagiku. Aku akan terus belajar untuk menikmatinya, yah... Ibarat meminum kopi pahit di saat dahaga, hingga aku terbiasa dan menyenanginya. Karena "amanah" dan "tanggung jawab" tak akan hilang dari laki-laki, kecuali bila mati.

 Dan karena nantinya aku adalah imam bagi keluarga kecil yang kucita-citakan. Maka tidaklah dirasa terlalu cepat bila saat ini aku mulai menyiapkan diri untuk menjadi seorang Ayah. Ya, suatu hari nanti aku akan dipanggil "Ayah"...

Walau masih tersisa 1 episode lagi, tapi itu juga tak pasti. Jikalau Allah menakdirkan umurku panjang maka tentu masa tua itu akan kutemui. Sejujurnya aku ingin hidup lama, setidaknya hingga tidak ada lagi kebaikan yang bisa kuusahakan dan tidak ada lagi kemanfaatan yang bisa kuberikan. Dan lagi... semoga tidak dianggap berlebihan bila aku juga menginginkan mati secara "elegan", yakni syahid dalam mewarisi perjuangan kekasihku Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam...

 


Jumat, 04 Oktober 2013

Madah Mahabbah


Butiran-butiran kecil rahmat-Nya masih terus membasahi.
Mewudhu'i gersangnya wajah kehidupan yang telah jemu bertayamum dengan debu dan tanah. 
Sakinah sekali! 
Kembali aku hanyut dalam syahdu, khusyuk mendengar dzikir binatang malam berpadu dengan desiran angin yang menyela dedauan. 
Walau malam ini terasa dingin, tapi aku masih ingin bercengkrama dengan hati.   
Aku masih ingin bermuhasabah dengan raja', khauf, dan mahabbah.

Barangkali ia sengaja bersembunyi di balik gumpalan awan yang meratapi bumi. 
Ya... bulan seperti sengaja membiarkanku berkhalwat dengan hati. 
Seakan tahu bahwa mendungnya awan lebih serasi dengan masa laluku. 
Tapi tidak apa, karena aku tahu langit selalu jujur, dan ia sudah cukup sebagai saksi bahwa aku masih menggelisahkan pertemuanku dengan subuhku nanti.

Semoga masih tersisa banyak sujud yang bisa kupersembahkan untuk Tuhan-Ku.
Agar aku terbiasa menghinakan diri, agar aku siap menghadapi mati.


#Bilik, 05Oktober2013 @02.00

Senin, 30 September 2013

Segudang Manfaat Bersepeda


Beruntunglah Anda yang hobi bersepeda (seperti saya :D)! Karena selain bermanfaat bagi kesehatan tubuh, ternyata bersepeda yang merupakan olahraga aerobik juga bermanfaat bagi otak. Fakta menggembirakan ini -terutama bagi para goweser- saya ketahui
ketika membaca sebuah ulasan dari majalah Islam, Ar-Risalah dengan judul "Aerobik Juga Bermanfaat Bagi Otak".

Dikatakan bahwa telah dilakukan sebuah studi dengan melibatkan 59 pria dan wanita. Mereka diminta untuk fokus melakukan salah satu program latihan yang dipilih : aerobik atau angkat beban. Setelah enam bulan, para responeden tersebut diminta untuk melakukan tes Functional Magnetic Resonance Imaging (fMRI).

Hasilnya, mereka yang melakukan latihan aerobik memliki peningkatan aktivitas pada frontal corteks, bagian otak yang berfungsi menyusun perencanaan dan memori jangka panjang. Perkembangan yang bagus juga ditujukan pada pariental cortex, bagian otak yang menyimpan memori dari penglihatan mata. Dua wilayah otak tersebut berhubungan langsung dengan fungsi kognitif otak yang semakin menurun seiring bertambahnya usia.

Kesimpulan sementaranya adalah, berlatih aerobik memiliki manfaat positif bagi kesehatan otak.

Perlu diketahui bahwa olahraga aerobik adalah olahraga yang membutuhkan oksigen dalam memporduksi energi untuk membuat otok bisa berkontraksi. Selain dengan bersepeda, olahraga aerobik bisa juga dilakukan dengan berlari, melompat, ataupun berenang. Berbeda dengan olahraga angkat beban atau push up yang tergolong olahraga anaerobik.

Bagi para goweser, maka bersepeda akan dapat melancarkan peredaran darah, termasuk aliran darah ke otak. Sehingga apabila otak mendapatkan suplai oksigen yang cukup kita akan merasa segar yang tentu berpengaruh terhadap semangat belajar dan beraktivitas!

Selain itu, bersepeda juga dapat memacu bahan aktif kimia yang dikenal sebagai faktor otak neurotropik (Brain Derived Neurotropic Factor/ BDNF) yang bisa merangsang pertumbuhan sel otak. Aktivitas ini terjadi di hippocampus yaitu wilayah otak yang bertanggung jawab untuk memori otak. Hormon BDNF akan membuat otak menjadi lebih muda.

Dan yang lebih penting, bersepeda dapat menghilangkan stres. Karena dengan bersepeda dengan senang dan santai akan menghambat pembentukan hormon kortisol atau hormon stres sehingga dapat membantuk kita untuk bisa berfikir lebih jernih lagi. Bahkan diyakini juga bisa membantu menghasilkan sel saraf baru menggantikan sel otak yang rusak karena stres.

Masih banyak lagi efek positif yang bisa kita dapatkan dengan bersepeda. Terutama terkait manfaat bersepeda terhadap kelestarian lingkungan. Dengan rutin bersepeda berarti kita telah membantu mengurangi penggunaan bbm dan mengurangi polusi udara. Selain itu bersepeda juga merupakan pilihan yang bijak dalam berkendara untuk menghindari kemacetan, karena akan dengan mudah lolos dari padatnya kemacetan lalu lintas (pengalaman pribadi :D). Tapi tentu saja kita berharap adanya perhatian pemerintah terhadap para pengguna sepeda untuk menyediakan jalur khusus, terutama di kota-kota besar. Agar semakin banyak yang bersemangat untuk beralih ke sepeda, dan semakin banyak pula yang bisa merasakan manfaat positif dari bersepeda.

Minggu, 28 Juli 2013

Langit Temaram Suram


Ku buka jendela kamarku pagi ini. Di sela-sela dedaun pohon kuini yang menengadah ke arahku, kusaksikan gelut gereja, pipit, dan kolibri. "Ah... Pagi yang indah", batinku. Walau langit tak sempurna cerah, tapi cantiknya mega biru masih menyembul, melatarbelakangi awan keemasan nan megah.

Tapi tetap saja hatiku belum lepas, hatiku tak puas. Mengingat kemarin aku kembali kehilangan saudaraku. Tidak hanya satu, atau dua... Tapi ratusan kasihku telah syahid di tanah Nabi Yusuf dan Musa. Entah siapa lagi kasihku yang namanya akan tergurat dalam nisan hari ini.

Aku sungguh tidak ikhlas. Menyaksikan kasihku menjadi korban kebinatangan dari segerombolan jasad-jasad boneka Amerika. Ah... Lagi-lagi Amerika...

Ya... Sudah tiga pekan ini saudaraku dihabisi. Darah mereka sengaja dicecerkan untuk menyenangkan hati sang petinggi. Penguasa yang mencuri... Tidak... Sang penguasa itu tidak mencuri... tapi merampok konstitusi dan memperkosa demokrasi. Ia mempertontonkan kebiadabannya sebagai hiburan para tuan, yang menyokongnya dari belakang dengan senjata dan uang.

Ah... Semua ini telah membuatku lupa bagaimana cara bersabar, melihat kasihku dipanggang di bara peperangan yang berkobar. Bahkan lembar cerita suriah masih belum ditutup, sedangkan kisah baru sudah dibuka dan sudah terlalu jauh dimainkan. Dan saudaraku disini juga sungguh tidak piawai memainkan peran. Mereka yang dituntut untuk berdoa dan bersiap-siaga malah tertawa, berleha, dan tidur nyaman.

Aku gemetar... Aku gamang... Sampai khusyukku hilang karena hati terus mengumpat para munafik yang memfitnah, membunuh, dan menebar kebencian. Aku ingin pulang, pulang ke medan juang untuk membersamai mereka yang istiqomah dalam lelah melawan tirani kedzaliman. Sungguh, Iri rasanya pada mereka yang tersenyum puas ketika peluru-peluru tajam menembus dada dan otak mereka. Walau jasad mereka diinjak dan dilecehkan, tapi mereka telah menang!

Ah...  Ternyata pagi ini masih suram. Semoga esok sudah tamat cerita duka dari kasihku di negeri-negeri seberang. Atau mungkin aku harus kesana menebus hutang janjiku berjumpa senapan yang mengerang dan kilatan pedang.

Rabu, 24 Juli 2013

22


22 tahun sudah waktu ku pakai,
Mengarungi samudera dunia beriak badai,
Tak banyak kebaikan yang bisa kucapai,
Harap terus bertambah hingga jasad membangkai...
Waktu bergulir begitu cepat,
Ditambah jatah hidup yang hanya singkat,
Ku mengolok diri yang tak banyak berbuat,
Menutupi malu menyaksikan akhlakku nan cacat...

Katanya aku sudah dewasa,
Bila mati maka amalku sudah tentu ditanya,
Entah berapa tinggi tumpukan dosa,
Sedangku bangga dengan secuil pahala...
Mungkin saja waktu yang kuhabiskan tak setimpal,
Dibandingkan sisa waktu hidup yang tinggal,
Rasanya sudah saatnya aku berbekal,
Sebelum hayat dijagal ajal...

22 tahun sudah masa kuhabiskan,
Mencicipi dunia penuh tipuan,
Berteman amal dan sedikit iman,
Kuberani menikmati hidup yang melenakan...
Sebelum badan ini dikubur,
Moga ku sadar dan berkenan bertafakur,
Ketika hati dan tangis melebur,
Mengingat mati moga imanku subur...

Katanya kematian itu pasti,
Dan saat ini aku juga ikut menanti,
Entah mati seperti apa yang akan kutemui,
Sambil tetap berbekal agar tak merugi...
Tidak mengapa bila masa laluku kelam,
Bahkan ku tak peduli walau pekat menghitam,
Karena yakin esok tak lagi suram,
Dengan Cinta dan Ridho-Mu penuh kugenggam...


Ramadhan Kali Ini

Ini Ramadhan yang berat. Tentu saja! Tanpa kehadiranmu sungguh terasa ada yang kurang dari kebahagiaan Ramadhan yang kami rasa.

Ya, ini Ramadhan pertama yang kami lalui tanpa Papa. Sungguh sangat berat. Kami harus mampu bersabar dan membiasakan diri dengan suasana yang benar-benar berbeda dari Ramadhn-Ramadhan sebelumnya. Karena tidak ada lagi yang akan meramaikan suasana berbuka puasa, tidak ada lagi terdengar kumandang adzan khas Papa yang selalu menggema, tidak ada lagi terdengar lantunan bacaan al-Qur'an Papa di malam hari ketika tilawah atau ketika mengimami shalat Tarawih di Surau, tidak ada lagi yang segera membangunkanku ketika sahur dan mengajakku untuk melaksanakan Tahajud, Tidak ada lagi terdengar tangis doa seorang ayah yang mendoakan anak-anaknya, tidak ada lagi... tidak ada lagi...

Kami acapkali menangis. Menangis bukan tidak menerima takdir-Nya, tapi tangis tanda cinta dan rindu yang mendalam. Nuansa duka amat kental terasa. Ketika berbuka, sahur, tilawah, dan dalam setiap rakaat munajat kami masih belum bisa bercerai dengan air mata. Berharap dengan pengharapan dan do'a dapat menyenangkan Papa disana.

Walau sudah tak ada lagi harapan berjumpa di dunia, semoga kelak di akhirat kita berjumpa di Surga-Nya. Karena sungguh, aku amat bangga memiliki seorang ayah yang  taat, baik, tegas, pemberani, berwibawa, ramah, dan perhatian dengan anak-anaknya. Papa telah memberikan teladan dan pengajaran bagaimana menjadi sosok seorang ayah yang baik dan membanggakan. Bagiku, sosok lelaki terbaik yang pernah ku temui itu adalah Papa. Semoga aku bisa mengambil pelajaran, hingga nantinya anakku juga akan berkata "Sosok lelaki terbaik yang pernah ku temui adalah Ayahku"

Senin, 13 Mei 2013

Selamat Pagi Pa!


Selamat pagi Pa!
Kuharap kau dengar ku menyapa,
Adakah bahagia disana?
Tentu... Karena aku selalu kirimkan doa....

Selamat pagi Pa!
Aku berduka... Sebelumnya aku jarang menyapa,
Apalagi memperhatikanmu yang semakin tua,
Yang ku tahu perhatianmu padaku selalu ada...

Selamat pagi Pa!
Saat ini kau tak lagi bila bangga bila anakmu berharta,
Karena yang terpenting hanya amalan dan akhlak mulia,
Dan anak sholeh yang akan membahagiakanmu dan membawamu ke surga...

Selamat pagi Pa!
Lelehan air mata ini... Lelehan air mata ini akan menjadi bukti nyata,
Bahwa aku menyesal tak pernah mengatakan "selamat pagi Pa" sebelumnya,
Aku menangis bukan tak menerima takdir-Nya,
Tapi karena aku cinta...
Aku menangis karena aku ingin Allah melihat betapa aku sangat ingin kau bahagia disana...


9 Juli 2012
milad terakhirku di tengah keluarga, bersamamu...