Tampilkan postingan dengan label Intuisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Intuisi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 04 Oktober 2013

Madah Mahabbah


Butiran-butiran kecil rahmat-Nya masih terus membasahi.
Mewudhu'i gersangnya wajah kehidupan yang telah jemu bertayamum dengan debu dan tanah. 
Sakinah sekali! 
Kembali aku hanyut dalam syahdu, khusyuk mendengar dzikir binatang malam berpadu dengan desiran angin yang menyela dedauan. 
Walau malam ini terasa dingin, tapi aku masih ingin bercengkrama dengan hati.   
Aku masih ingin bermuhasabah dengan raja', khauf, dan mahabbah.

Barangkali ia sengaja bersembunyi di balik gumpalan awan yang meratapi bumi. 
Ya... bulan seperti sengaja membiarkanku berkhalwat dengan hati. 
Seakan tahu bahwa mendungnya awan lebih serasi dengan masa laluku. 
Tapi tidak apa, karena aku tahu langit selalu jujur, dan ia sudah cukup sebagai saksi bahwa aku masih menggelisahkan pertemuanku dengan subuhku nanti.

Semoga masih tersisa banyak sujud yang bisa kupersembahkan untuk Tuhan-Ku.
Agar aku terbiasa menghinakan diri, agar aku siap menghadapi mati.


#Bilik, 05Oktober2013 @02.00

Minggu, 28 Juli 2013

Langit Temaram Suram


Ku buka jendela kamarku pagi ini. Di sela-sela dedaun pohon kuini yang menengadah ke arahku, kusaksikan gelut gereja, pipit, dan kolibri. "Ah... Pagi yang indah", batinku. Walau langit tak sempurna cerah, tapi cantiknya mega biru masih menyembul, melatarbelakangi awan keemasan nan megah.

Tapi tetap saja hatiku belum lepas, hatiku tak puas. Mengingat kemarin aku kembali kehilangan saudaraku. Tidak hanya satu, atau dua... Tapi ratusan kasihku telah syahid di tanah Nabi Yusuf dan Musa. Entah siapa lagi kasihku yang namanya akan tergurat dalam nisan hari ini.

Aku sungguh tidak ikhlas. Menyaksikan kasihku menjadi korban kebinatangan dari segerombolan jasad-jasad boneka Amerika. Ah... Lagi-lagi Amerika...

Ya... Sudah tiga pekan ini saudaraku dihabisi. Darah mereka sengaja dicecerkan untuk menyenangkan hati sang petinggi. Penguasa yang mencuri... Tidak... Sang penguasa itu tidak mencuri... tapi merampok konstitusi dan memperkosa demokrasi. Ia mempertontonkan kebiadabannya sebagai hiburan para tuan, yang menyokongnya dari belakang dengan senjata dan uang.

Ah... Semua ini telah membuatku lupa bagaimana cara bersabar, melihat kasihku dipanggang di bara peperangan yang berkobar. Bahkan lembar cerita suriah masih belum ditutup, sedangkan kisah baru sudah dibuka dan sudah terlalu jauh dimainkan. Dan saudaraku disini juga sungguh tidak piawai memainkan peran. Mereka yang dituntut untuk berdoa dan bersiap-siaga malah tertawa, berleha, dan tidur nyaman.

Aku gemetar... Aku gamang... Sampai khusyukku hilang karena hati terus mengumpat para munafik yang memfitnah, membunuh, dan menebar kebencian. Aku ingin pulang, pulang ke medan juang untuk membersamai mereka yang istiqomah dalam lelah melawan tirani kedzaliman. Sungguh, Iri rasanya pada mereka yang tersenyum puas ketika peluru-peluru tajam menembus dada dan otak mereka. Walau jasad mereka diinjak dan dilecehkan, tapi mereka telah menang!

Ah...  Ternyata pagi ini masih suram. Semoga esok sudah tamat cerita duka dari kasihku di negeri-negeri seberang. Atau mungkin aku harus kesana menebus hutang janjiku berjumpa senapan yang mengerang dan kilatan pedang.

Rabu, 24 Juli 2013

22


22 tahun sudah waktu ku pakai,
Mengarungi samudera dunia beriak badai,
Tak banyak kebaikan yang bisa kucapai,
Harap terus bertambah hingga jasad membangkai...
Waktu bergulir begitu cepat,
Ditambah jatah hidup yang hanya singkat,
Ku mengolok diri yang tak banyak berbuat,
Menutupi malu menyaksikan akhlakku nan cacat...

Katanya aku sudah dewasa,
Bila mati maka amalku sudah tentu ditanya,
Entah berapa tinggi tumpukan dosa,
Sedangku bangga dengan secuil pahala...
Mungkin saja waktu yang kuhabiskan tak setimpal,
Dibandingkan sisa waktu hidup yang tinggal,
Rasanya sudah saatnya aku berbekal,
Sebelum hayat dijagal ajal...

22 tahun sudah masa kuhabiskan,
Mencicipi dunia penuh tipuan,
Berteman amal dan sedikit iman,
Kuberani menikmati hidup yang melenakan...
Sebelum badan ini dikubur,
Moga ku sadar dan berkenan bertafakur,
Ketika hati dan tangis melebur,
Mengingat mati moga imanku subur...

Katanya kematian itu pasti,
Dan saat ini aku juga ikut menanti,
Entah mati seperti apa yang akan kutemui,
Sambil tetap berbekal agar tak merugi...
Tidak mengapa bila masa laluku kelam,
Bahkan ku tak peduli walau pekat menghitam,
Karena yakin esok tak lagi suram,
Dengan Cinta dan Ridho-Mu penuh kugenggam...


Senin, 13 Mei 2013

Selamat Pagi Pa!


Selamat pagi Pa!
Kuharap kau dengar ku menyapa,
Adakah bahagia disana?
Tentu... Karena aku selalu kirimkan doa....

Selamat pagi Pa!
Aku berduka... Sebelumnya aku jarang menyapa,
Apalagi memperhatikanmu yang semakin tua,
Yang ku tahu perhatianmu padaku selalu ada...

Selamat pagi Pa!
Saat ini kau tak lagi bila bangga bila anakmu berharta,
Karena yang terpenting hanya amalan dan akhlak mulia,
Dan anak sholeh yang akan membahagiakanmu dan membawamu ke surga...

Selamat pagi Pa!
Lelehan air mata ini... Lelehan air mata ini akan menjadi bukti nyata,
Bahwa aku menyesal tak pernah mengatakan "selamat pagi Pa" sebelumnya,
Aku menangis bukan tak menerima takdir-Nya,
Tapi karena aku cinta...
Aku menangis karena aku ingin Allah melihat betapa aku sangat ingin kau bahagia disana...


9 Juli 2012
milad terakhirku di tengah keluarga, bersamamu...